Pages

Label

69 (1) Abang Angkat (4) AbgmanJB (10) Air Mani (53) Ajudan (5) Aladin (3) Amput (1) Anal (1) Anonymous (4) Askar (3) Asrama (10) Awek (2) Ayah (13) Ayam (1) Bapa Saudara (1) Bas (3) Batang Besar (93) Batang Kuda (10) Bawah Umur (22) Bercuti (9) Blowjob (110) Bogel (42) Bontot (10) Boyfriend Orang (5) Budak Kelantan (2) Butuh (4) By Adek (1) By Andrew (12) By Awang (2) By Budak Adli (1) By Damak (1) By Denco (4) By EddieAmir (4) By Faz (4) By Jimbob (1) By Justin (2) by Longkorn (4) By Malefxer (4) By Man (4) by marzuki (2) By Mr Cadd (14) By Nash (1) By Nicholas (1) By Niclit (43) By Nur Atikah (8) By pangeran212 (1) By Puteri Comel (9) By Rangga (7) By Revolt (3) By Shaeazahari (2) By Shahruddin (2) By Tompok (1) By Wanxx (1) By Wanxxx (1) By Zakar (2) Cerpen (24) Cikgu (11) Cina (7) Cuti2 Malaysia (5) Dildo (2) Dongeng (5) Driver (2) Driver Lori (1) Duda (2) Emak (11) ExBoyfriend (3) Foursome (1) Glory Hole (1) Handsome (1) Hensem (8) Hetero (140) Hisap (60) Homo (300) Hotel (17) Housemate (3) Ibu Mertua (1) Imam (1) Incest (35) Indian (6) Indonesia (149) Interracial (25) Isteri Orang (11) Jawa (1) jiran (11) Jubur (2) Kampung (26) Kebun Teh (1) Kiamat Dunia (8) Kisah Cinta Dua Marhalah (8) KL&L (10) Konek (22) Kontol (1) Kontol Gede (48) Kuli (4) Lancap (36) Liwat (53) Love Story (17) Maktab (1) Malaysia (275) Mat Salleh (5) Mature (1) Melanau (1) Melayu (29) MOTNES (7) Muscle (52) Negro (2) Ngentot (57) Novel (46) Orgy (9) Outdoor (16) Outstation (1) Pakcik (4) Pantai (3) Pengumuman (1) Pensyarah (1) Perkhemahan (4) Petualangan Aji (30) Polis (21) pondan (1) Pondok Jejaka (4) Professor (2) Rancangan Maziah (4) Remaja (77) Rogol (13) Roomate (15) Sadis (2) Sarawak (1) Satpam (3) Sekolah (12) Sepenggal Kisah dari Gomorah (4) Serial Andre dan Calvin (40) Siswa (13) Skodeng (10) Sport (1) Suami (4) Suami Isteri (8) Suami Orang (8) Tentera (6) Tetek (3) Threesome (11) Toilet (5) Triller (7) Tukang Kebun (2) Uncle (13) Universiti (23) Urut (5) Ustaz (2) Zombie (9)

Isnin, 2 Mac 2015

3 SOME



By Pangeran212
Sumber : www.menonthenet.com

Aku terus sibuk mengatur lalu lintas. Tak ku pedulikan peluh yang sejak tadi membasahi tubuh kekarku. Memang sudah 3 tahun aku menjalani kehidupan ini sebagai polisi. Dan memang sangat menyenangkan. Menjadi polisi adalah cita-citaku sedari kecil.

”Priiiit....!!”Aku membunyikan peluitku.

Seorang pengendara motor tidak memakai helm. Pengemudi motor itu berhenti dan mendekatiku. Ku lihat wajahnya pias karena ketakutan.

 ”Anda tahu kesalahannya kan ?”tanyaku berusaha menampakkan kewibawaanku sebagai polisi.

 Ku pandangi wajahnya yang begitu tampan, membuatku tergoda. Aku tak tahu, kenapa setiap melihat lelaki tampan, hati ku selalu tergoda. Seperti halnya saat ini, pengemudi motor yang diperkirakan mahasiswa itu sangat tampan. Bibirnya merah dan tipis.

 ”Aku tidak pakai helm, pak...,”jawabnya.

Aku menjelaskan pasal yang telah ia langgar. Aku periksa surat motornya, dan aku nyatakan motornya harus ditilang. Dan ini bukan untuk pertama kali aku menilang motor atau mobil orang.

”Motor anda harus ditilang... ”Jangan Pak. Berapa yang harus aku bayar...,”rengeknya mengharapkan belas kasihan.

Keinginanku terhadap dirinya, membuat aku tak ingin melepaskannya begitu saja. Biasanya kalau pemilik kendaraan yang aku tilang telah memberi uang, maka dengan begitu mudah aku bebaskan. Tapi, kali ini aku punya ide. Ketampanan dan postur tubuhnya yang atletis membuatku ingin menjebaknya dalam permainanku. Akua tak ingin, hanya dalam khayalan saja. Ini saatnya keinginanku menjadi suatu kenyataan.

 ”Aku tak menerima sogokan. Motor anda harus ditilang,”ku lihat wajahnya semakin pucat karena ketakutan.
”Tolong Pak, itu bukan motor ku....aku....
”Tapi, peraturan tetap peraturan...

Sekali lagi ku pandangi wajahnya yang begitu tampan. Terlihat ada belahan di dagunya. Hidungnya mancung dengan alis yang menaungi mata besarnya berwarna hitam pekat.

”Begini saja..., motor ini dengan terpaksa aku bawa.

Kamu bisa mengambilnya malam ini di alamat ini,”Aku memberikan kartu namaku padanya. Ku lihat pemuda itu pergi dengan lunglai. Aku hanya tersenyum. Aku tak mungkin melepaskan begitu saja pemuda tampan itu. Ku lihat KTPnya yang aku ambil. Namanya ADIYASA PRATAMA. Usianya baru 23 tahun. Empat tahun di bawah usiaku.

*****

Aku gelisah sendiri. Aku hanya mondar mandir tak karuan. Aku sengaja tak membuka pakaian seragamku. Sebab, aku harus tampil formal. Ku lihat arlojiku telah menunjukkan pukul 21.00. Hatiku bertanya-tanya, apakah pemuda yang bernama Adiyasa itu akan datang malam ini ? Aku sangat menginginkannya. Aku ingin memeluk dan mengecup bibirnya. Dan...aku akan memainkan kepunyaannya dan menggagahinya. Itu yang ku inginkan darinya. Adiyasa...

. ”Tok...tok....!!” Bunyi ketukan pintu itu membuat aku berdebar.
 Aku membuka pintu dengan harapan pemuda itu yang datang. Ternyata dugaanku salah. Yang ada di hadapanku Riyaz, teman dekatku. Ku lihat ia juga masih mengenakan seragam, dan tampak gagah. Riyaz, juga tampan. Namun aku tak berani jika menyalurkan keinginanku dengan teman seprofesi. Aku takut perbuatanku terbongkar.

 ”Apa aku boleh masuk ?”tanya Riyaz dengan senyumannya yang memikat. ”Tentu saja boleh... ”Aku baru pulang dari Indramayu. Boleh aku menginap di sini ?”tanyanya sambil menjatuhkan pantatnya yang sexy di sofaku.

Aku kebingungan. Bagaimana aku ingin melaksanakan rencanaku terhadap Adiyasa. Aku berdo’a agar Adiyasa datang besok malam saja.

”Kenapa kamu kelihatan bingung ?”tanya Riyaz. ”Aku heran, kamu tumben ke sini. Mau nginap lagi ?”Aku tersenyum. Duduk di sisinya. ”Lagi kesepian...,”Riyaz mendongakkan kepalanya dengan kedua tangannya dibelakang pundak. ”Emang isteri kamu kemana ?”Aku tahu Riyaz sudah menikah 2 bulan yang lalu. ”Ternyata punya istri itu nggak enak...,”desahnya kemudian. ”Kenapa ? ”Banyak keinginan dan memuakkan,”Ujar Riyaz sambil menatapku penuh arti. Aku jadi heran. ”Boleh kan aku nginap di sini ?”tanyanya penuh harap.

Aku mengangguk tanpa berani menolak. Pikiranku tertuju dengan rencanaku terhadap Adiyasa. Aku dan Riyaz berbincang banyak. Aku sangat menikmati senyumnya. Hingga aku berandai-andai, jika Riyaz mau mengerti perasaanku menuntut untuk dilampiaskan. Apalagi saat Riyaz mulai menyinggung masalah hubungan intim. ”Hubunganku dengan isteri memburuk, saat aku....

 ”Kenapa ?”Ku lihat ada mendung di wajah Riyaz. ”Aku bingung untuk memulai ceritanya,”Riyaz tersenyum hambar. ”Semoga aku bisa bantu... ”Baiklah... Melihat wajah Riyaz, untuk sesaat aku melupakan Adiyasa. Kini di benakku, apakah aku bisa memeluk dan menggagahi Riyaz. Ia tampan dengan tubuh kekarnya, sangat merangsang, membuat kepunyaanku horny. ”Setiap kali aku akan berhubungan, kepunyaanku langsung loyo. Padahal sebelumnya sempat ereksi.... ”Mungkin kamu lagi capek, atau nggak konsentrasi,”ujarku menimpali. ”Aku takut... ”Taku bagaimana ? ”Aku takut impoten...,”keluhnya kemudian. ”Boleh aku lihat punyamu ?”tanyaku memberanikan diri. Penasaran juga aku jadinya. ”Boleh...,”jawabnya membuat hatiku kegirangan.

Ku lihat ia mulai membuka ritsluiting celana coklat seragamnya. Aku menantinya dengan dada bergemuruh. Riyaz melorotkan celananya tanpa malu-malu. Aku terpana dibuatnya.

 ”Lihatlah...,”Riyaz menunjukkan penisnya yang masih loyo. ”Apakah kamu bisa mengobati orang yang impoten ?”tanyanya kemudian sambil menatapku penuh harap. ”Aku coba,”jawabku sambil mulai mengelus dan mengusap penisnya. Aku merasakan bermimpi bisa memegang penis Riyaz. Tidak !! Aku tidak bermimpi. Ini kenyataan !! Aku benar-benar merasakan kehangatan menyentuh telapak tanganku. Aku merasakan denyutan di batang penisnya yang mulai ereksi. Aku senang melihatnya. ”Ereksi....,”desisku. ”Teruskan, Rif...,”Riyaz kenikmatan.

Penisnya semakin mengeras dan aku bisa mengira-ngira panjangnya bisa mencapai 18 cm. Aku jadi bernafsu melihatnya. Kepala penisnya tampak mulai mengkilap oleh mani. Aku tahu Riyaz terangsang. Aku memberanikan diri mulai mengulum dan menghisap penis Riyaz. Ini untuk pertama kali dalam hidupnya melakukan hal itu. Rasa asin dan gurih menyentuh lidah dan tenggorokannya. Mata Riyaz merem melek sambil menikmati servis yang ku berikan. Penisnya keluar masuk di dalam mulutku. Aku berdiri dan kami saling memandang. Dari melihat tatapan matanya, aku bisa memahami, kalo Riyaz ingin aku menggagahinya.

 ”Kamu tidak impoten, Yaz. Keinginan sexualitas mu menuntut untuk sesama jenis,”ujarku. ”Benarkah ?”Ada binar di matanya. ”He-eh,”Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum. ”Maukah....malam ini kamu melayaniku ? Aku ingin sekali...,”pintanya yang membuatku senang. ”Tentu saja, Yaz. Aku juga membutuhkanmu malam ini...,”bisikku sambil memeluk Riyaz.

 Dan ia menyambut pelukanku. Kami saling berciuman. Ku lumat bibirnya dan lidah kami menari-nari mengikuti desahan nafas. Tangan Riyaz mulai merayap ke selangkanganku.

 ”Celanamu dibuka ya ?” Pinta Riyaz. Aku menganggukkan kepala.

Ku biarkan, Riyaz jongkok dan membuka celana coklatku. Hingga ia mendapatkan penisku mengeras tepat di depan wajahnya. Tak urung penisku pun ia emut. Aku merasakan kenikmatan tiada tara. Kenikmatan yang selama ini ku inginkan. Pengalaman pertamaku yang tak mungkin aku lupakan. Dalam sekejap aku dan Riyaz telah telanjang bulat. Posisi kami pun sudah 69. Aku begitu asyik menghisap dan mengulum penisnya yang mengeras bagai kayu. Urat-urat di sekitar batang penisnya menyembul menampakkan keperkasaannya. Aku sangat menyukainya.

 Di lubang penisnya cairan mani yang tampak bagai dipernis mengkilap. Sebaliknya, Riyaz dengan liar menghisap dan mengemut penisku. Enak dan nikmat sekali yang ku rasakan. Aku benar-benar blingsatan di buatnya. Rasa-rasanya tak tahan lagi aku ingin memuncratkan spermaku. Namun aku ingin spermaku muncrat di lubang anus Riyaz yang pasti sempit dan enak. Itulah yang kubayangkan saat ini.

”Riyaaz....,”bisikku. ”Ada apa ??”tanyanya menghentikan aktivitasnya terhadap penisku. ”Aku...aku ingin fucking kamu, boleh ?? Riyaz memandangku. Kami saling menatap penuh makna. Ku lihat wajah tampan Riyaz tersenyum. ”Kamu telah berjasa buatku, Rif. Aku tak mungkin menolak...,”jawabnya sambil melingkarkan tangan kekarnya ke leherku. Aku pun membalasnya dengan hangat. Kami saling berciuman.

Lalu aku mulai menindih tubuh Riyaz. Penis kami saling bertemu dan bergesekan satu sama lainnya. Sangat nikmat sekali. Kemudian kedua kaki Riyaz aku angkat dan dibuka lebar-lebar. Ku lihat, lubang anusnya tertutup oleh bulu-bulu yang menggairahkan. Nafsuku semakin meledak-ledak. Ku sibak bulu-bulu itu hingga lubang anus Riyaz dengan mudah ku pandang. Betapa lubang anus itu idamanku selama ini. Aku mendekatkan wajahku ke selangkangannya dan mulai menjilat buah penisnya yang menggelantung, lalu turun ke bawah tepat di lubang anusnya yang harum. Lidahku mulai menari-nari di sekitar lubang anus itu, bahkan ujung lidahku mulai menyusuk ke dalam lubang anus yang indah itu.

”Ahhhh....ohhhh !!”Riyaz menggeliat kegelian. Aku yakin ia merasakan kenikmatan. ”Kamu tidak jijik, Rif ?”tanyanya sambil menahan kegelian. ”Tidak. Aku malah menyukainya...,”ujarku sambil kembali menjilat lubang anusnya.

****

Aku telah melumuri penisku dengan minyak zaitun yang tadi sore aku beli. Sehingga tampak penisku mengkilap bagai dipernis. Kemudian tak lupa aku melumuri juga lubang anus Riyaz dengan minyak zaitun tersebut. Ini bertujuan, agar aku dengan mudah memasukkan penisku ke dalam lubang anus temanku itu. Jariku mulai menari-nari dan keluar masuk mempermainkan lubang anus Riyaz.

”Auuhh...!!”Riyaz menggelinjang bagai cacing kepanasan.

Riyaz mengambil posisi menungging. Pantatnya yang kenyal berisi sangat menggodaku. Aku mulai mengarahkan penisku ke lubang anus Riyaz yang mengkilap karena telah ku lumuri dengan minyak zaitun. Dan perlahan-lahan, kepala penisku mulai menyentuh dan memasuki lubang kenikmatan itu.

 ”Akhhh...ss...sakiiit....,”Riyaz merasakan perih. Aku tak mempedulikan lagi erangan itu. Penisku terus ku tekan masuk. Terasa sempit dan seret. Tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata betapa nikmatnya. Kini seluruh penisku telah amblas masuk.

 ”Sss...saakitt....Rif....,”keluh Riyaz.

Matanya merem melek. Aku mulai menghentak-hentak bagai memacu kuda. Penisku mulai masuk keluar mengaduk-aduk lubang anus Riyaz. Di ruangan kamar itu yang ada hanyalah suara desah dan erangan kami. Inilah untuk pertama kalinya aku melakukan hal ini. Dan khayalan-khayalanku menjadi kenyataan. Ini yang selama ini ku inginkan. Kenikmatan yang tiada duanya. Aku semakin keras menghentak-hentak. Pantat sexy ku turun naik seirama dengan desah dan erangan. Tak ku pedulikan Riyaz yang kesakitan. Penisku semakin cepat keluar masuk di lubang anusnya.

 Lama kelamaan tak kudengar lagi erangan Riyaz, kini yang hanya terdengar desahan. Aku mendekapnya tanpa menghentikan aktivitas penisku. Lehernya ku pagut, dan lidahku menyapu belakang telinga Riyaz.

”Terus...teruuuusss....auuuuh !!”desah Riyaz. Aku tahu, kini ia merasakan kenikmatan. Hentakan ku semakin cepat dan kuat. Aku merasakan ada sesuatu yang akan dimuntahkan penisku. Desirannya terasa dari ubun-ubun hingga ke bagian selangkanganku. Ku benamkan penisku dalam-dalam hingga amblas semuanya. Aku ingin memuntahkan spermaku ke dalam lubang anus Riyaz yang nikmat.

 ”Aku mau keluarrr...,”bisikku ke telinga Riyaz. Ku lihat ia tersenyum. Tubuhku mulai mengejang. Ku dekap erat-erat tubuh Riyaz. Aku tak tahan lagi untuk bertahan. Hingga akhirnya..... ”Creeettt....crooott !!” Spermaku menyembur keluar memenuhi lubang anus Riyaz.

 ”Aaahhhhh.....nikmaaatt....,”Aku memuntahkan semua spermaku hingga tuntas. Tubuhku mulai loyo. Namun aku tak mau mengeluarkan penisku dari lubang anus Riyaz. Aku sangat betah dan menikmatinya.

”Sekarang giliran aku...,”pinta Riyaz.

Aku pun mencabut keluar penisku. Aku sangat capek bagai orang yang habis dikejar anjing. Aku berbaring terlentang. Ku biarkan Riyaz mulai mengangkat kedua kakiku dan lidahnya menari-nari di lubang anusku. Geli dan nikmat yang ku rasakan. Desah nafasnya menghangatkan selangkanganku. Penisku yang tadi mulai loyo, tiba-tiba berdenyut-denyut dan kembali mengeras.

 Ku lihat, Riyaz mulai melumuri lubang anusku dengan minyak zaitun, lalu jarinya mulai keluar masuk. Dari mulai satu jari hingga tiga jari masuk ke lubang anusku. Aku berusaha menahan sakit. Kakiku diangkat, hingga pantatku naik. Riyaz mulai mengarahkan penisnya ke lubang anusku. Aku memejamkan mataku. Dan tiba-tiba ku rasakan sesuatu yang keras menghantam membuatku terlonjak kesakitan.

 ”Aaakhhh..!!”Aku berusaha menahan rasa perih di anusku. Aku berusaha menikmati gesekan penis Riyaz yang keluar masuk menghentak-hentak penuh nafsu. ”Rif...pantatmu enaaak...oohhhh, ini benar-benar syurgaa.... ”Augh....uuhhh !!”Aku hanya bisa mengerang.

Hantaman penis Riyaz semakin cepat. Tubuhku bagaikan cacing kepanasan dibuatnya. Penisku menegang, ada kenikmatan mengalir perlahan ke sekujur tubuhku. Sambil menghentak-hentak, Riyaz melumat bibirku. Deru nafasnya bagai serigala kelaparan. Riyaz benar-benar gagah.

”Aku...mau keluarr....Rif,”bisiknya ke telingaku. Aku tersenyum.

Apalagi sambil menghentak-hentak, tangan Riyaz dengan nakal mengelus penisku yang sudah ngeceng dari tadi. Hentakan Riyaz semaking keras, membuat aku meringis. Aku tahu, Riyaz tak tahan lagi untuk menyemprot spermanya ke dalam lubang anusku. Dihujamnya dalam-dalam sambil memelukku dengan erat. Kurasakan Riyaz menggigit leherku sambil mengerang.

”Aaaaakh.....uuuuuh !! ”Croot...crooot...!!”

Riyaz menumpahkan spermanya yang banyak ke dalam lubang anusku. Ku rasakan kehangatan di lubang anusku. Membayangkan semuanya, membuatku horny. Riyaz masih tetap mengocok penisku, hingga akupun orgasme. Kami tersenyum puas. Riyaz mengecupku berkali-kali.

”Kamu telah membuatku bahagia, Rif. Aku baru menyadari, sesungguhnya ini yang aku butuhkan.... ”Aku pun bahagia...sayaang...

*****

Aku terjaga saat pintu rumah diketok beberapa kali. Begitupun Riyaz. Aku dan Riaz segera mengenakan pakaian. Aku masih terasa capek. Ku coba menyisir rambutku, agar tak kelihatan acak-acakan.

 ”Siapa, Rif ?” Tanya Riyaz. Aku hanya menggelengkan kepala.

Aku meninggalkan Riyaz yang masih di kamar. Saat ku buka pintu, ku lihat wajah tampan tersenyum penuh hormat. Pemuda itu datang juga. Untuk beberapa saat aku telah melupakan janjiku pada pemuda ini. Adiyasa kini berdiri di depanku.

”Maaf, terlambat Pak. Tadi aku nyasar.... ”Mari masuk...,”Aku berusaha tetap menjaga wibawa sebagai polisi. ”Apa aku boleh mengambil kembali motor ku ?”tanyanya setelah duduk.

Aku memberanikan diri memandang wajah tampannya. Bibirnya yang merah sangat menggodaku untuk mencium dan melumatnya.

 ”Boleh. Ikut aku sekarang...,”ujarku.

Aku mengajak Adiyasa ke kamarku, lalu dengan paksa aku memeluk tubuhnya. Riyaz tersenyum melihat apa yang ku lakukan.

”Apa-apaan ini ??”Adiyasa kaget. Ia berusaha menepis pelukanku.

Ku lihat Riyaz juga mulai memeluk Adiyasa yang meronta-ronta. Aku dan Riyaz bekerjasama mencopot semua pakaian yang melekat di tubuh Adiyasa. Nafsu telah membuatku semakin ganas.

 ”Lepaskan aku !! Aku lelaki normal !! Lepaskan !! ”Layani kami....sayaang...

Riyaz mengeluarkan borgol, sedangkan aku membaringkan tubuh Adiyasa di ranjang. Memang agak sulit, karena Adiyasa terus meronta. Namun, karena aku dan Riyaz telah dimabuk nafsu, akhirnya kedua tangan Riyaz berhasil diborgol dalam keadaan miring.

”Kamu hebat, Rif. Dapat dari mana cowok ganteng ini ?”Tanya Riyaz sambil membuka kembali pakaiannya.
”Nanti aku ceritakan. Kita nikmati dulu tubuh yang sudah bugil ini,”ujarku yang penuh nafsu melihat tubuh Adiyasa. ”Kalian polisi bejat !!”Bentak Adiyasa dengan sorot mata yang penuh amarah. ”Tenang ganteng, kamu akan ketagihan....,”ujarku mulai menindih tubuh Adiyasa.

 Sejak melihat pemuda ini aku memang mengkhayal bisa menikmati tubuh kekarnya. Aku dan Riyaz kembali telanjang bulat. Kami berdua ingin mengefuck Adiyasa secara bergilir. Penis kami masing – masing sudang ngeceng kembali mengeras siap untuk bertempur. Wajah Adiyasa tampak pias ketakutan.

”Jangan kalian lakukan !! Ku mohon...aku lelaki normal !!”Adiyasa memelas.

Aku mengangkangi wajah Adiyasa, mulut pemuda itu aku sumpal dengan penisku. Penisku mulai keluar masuk di mulut Adiyasa. Enak banget. Sebaliknya kulihat Riyaz sibuk menghisap penis Adiyasa. Setelah puas menghisap penisnya, Riyaz mengangkat kedua kaki Adiyasa, aku segera beralih memegang kedua kaki itu. Sehingga Riyaz dengan leluasa menjilat lubang anus yang masih virgin itu. Aku ingin sekali melihat dengan jelas bagaimana penis Riyaz memasuki lubang anus itu.

 “Riyaz...cepetan masukin, biar aku yang megang kakinya !!”Pintaku. ”Eh...pelumas yang tadi mana ? Tanya Riyaz. ”Ku mohoon...jangaan...”pinta Adiyasa.

 Kakinya meronta-ronta, aku berusaha memegang dengan erat. Riyaz sudah memulai mengoles lubang anus Adiyasa dengan pelumas. Jari-jarinya mulai menusuk masuk. Aku terangsang berat. Penisku tegang bagai kayu..

”Cepetan Riyaz !! Masukin penismu !! Riyaz mulai mengarahkan penisnya ke lubang anus Adiyasa. Aku jadi tidak sabaran ingin melihatnya. Adiyasa meronta-ronta. Perlahan-lahan penis Riyaz yang sudah dilumuri pelumas itu mulai perlahan-lahan menerobosi liang anus yang masih serat itu.

”Aaaagghhhh...sss...ssaakiiit....aoowww !!”Adiyasa menjerit.

Ku lihat penis Riyaz berhasil masuk dan mulai keluar masuk. Aku dan Riyaz tak mempedulikan lagi erangan kesakitan Adiyasa. Ku lihat ada bercak darah petanda hilangnya kevirginan Adiyasa. Riyaz terus memacu bagai menunggang kuda. Ku lepaskan kaki Adiyasa yang kini hanya pasrah pada kenyataan. Pemuda tampan itu hanya mampu mengerang menahan sakit. Hentakan Riyaz semakin cepat dan keras, wajahnya mulai memerah. Aku tahu Riyaz hampir mencapai puncaknya.

”Aaaahhhh....aku...maau...keluaaar....!! Crooot...crooot !!”Riyaz memuntahkan spermanya yg kental ke dalam lubang anus Adiyasa. Riyaz menarik keluar penisnya.

Ada bercak darah melekat dipenisnya. Aku tersenyum, melihat Riyaz lunglai. Ku suruh Adiyasa memiringkan tubuhya, lalu salah satu kakinya aku angkat. Penisku mulai ku arahkan ke lubang anusnya yang mengkilap karena pelumas dan sperma Riyaz.

 Dengan sekali hentakan penisku masuk ke liang anus. Adiyasa kembali menjerit. Dengan posisi miring aku menghentak – hentak penisku keluar masuk. Sungguh nikmat tiada tara. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu mengalir dari penisku. Ku hentak dalam-dalam dan ku tumpahkan spermaku memenuhi ruang sempit anus Adiyasa. Spermaku bercampur dengan sperma Riyaz.

”Croooot...croooot !! Aaaaahhhh !! Nikmaaat......!!

Jumaat, 27 Februari 2015

Ada Apa Dengan Rangga?



By Nicholas Saputra
Sumber :  www.menonthenet.com


Borne sangat kesal melihat Rangga yang dengan cueknya memanggil Cinta di Lapangan Basket saat pertandingan basket putri. Dengan kesal Borne mengajak gengnya untuk ngerjai Rangga. Bersama tiga orang temannya Borne mendatangi Rangga yang sedang asik membaca buku "Aku"nya di gudang sekolahan.

"Eh, ngomong apa lu sama Cinta?" bentak Adit, teman Borne galak kepada Rangga

"Ada apa rupanya, memangnya Cinta itu apanya kamu?" tanya Rangga dingin kepada Borne.

"Sial Lu!", bentak Adit lagi, "Cinta itu pacarnya Borne. Lu jangan dekat-dekatin dia lagi deh!!!"

"Bukan urusan lu saya mau ngobrol dengan siapa saja," jawab Rangga masih dengan gaya dinginnya.

"Sialan juga nih orang," kata Borne kesal sambil pasang ancang-ancang mukul Rangga. Tapi rangga dengan sigap langsung memukul Borne terlebih dahulu. pelipis Borne lembam terkena pukulan Rangga yang cukup bertenaga. Borne terjengkang, kesakitan sekaligus kaget mendapat pukulan yang tak diduganya itu., "shit!!!" bentaknya.

Adit, Dito, dan Bram ketiga teman Borne serentak menyerbu dan menghujani Rangga dengan pukulan setelah menyaksikan Borne terjengkang oleh pukulan Rangga yang cukup bertenaga itu. Maka gudang itupun gaduh dengan empat cowok smu yang tawuran.

"Berhenti!" bentak Borne keras "Udah-udah." kata Borne sambil menarik teman-temannya berhenti memukulin Rangga. Rangga tergolek tak berdaya, lemas dan kesakitan oleh pukulan gengnya Borne.
"Sakit juga nih tangan gua, mukulin nih orang," kata Dito sambil meremas-remas tangganya yang cukup kesakitan karena mukulin Rangga.

"Udah Born, ayo kita cabut, biar mampus dia disitu" kata Bram.

"Jangan dulu," kata Borne. "Kita buat dia kapok supaya gak gangguin Cinta lagi, enaknya diapain Dit?"

"Ehmmm...diapain ya?" kata Dito, mikir sambil ngelirik Rangga yang mengerang kesakitan.

Yang laen juga mikir. "Sodomi aja Born, hehhe," celetuk Bram.

"Gila loh" kata Adit. "Emangnya gua homo"

"Emang musti homo aja yang nyodomi, hahaha?" tanya Bram

Borne diam aja mendengar temen-temennya nyeletuk. Lalu dia berjalan menuju Rangga dengan wajah menyeringai garang sambil ngomong ke Adit, "Dit kunci gudang!".

Adit bingung apa maunya Borne, tapi dia mengikuti perintah itu. Borne jongkok di samping Rangga sambil mencengkeram kerahnya. "Lu emang musti diberi pelajaran yang bikin lo kapok ngejar-ngejar Cinta, cewek gua."

"Jangan Born, jangan,"kata Rangga.Dia mulai merasa ada gelagat aneh yang bakal terjadi pada dirinya.
"Sekarang lo minta-minta ampun, hehehehehe," Kata Borne sambil menarik muka Rangga ke arah selangkangannya. Ketiga temannya mengawasi dengan bingung.

"Born, mau ngapain kamu?" tanya Rangga sambil berusaha menarik kepalanya dari arah selangkangan Borne.

"Hey guys, pegangin nih oeang,!!!" kata Borne pada ketiga temanya. dengan sigap ketiga cowok itu memegangi Rangga, adit ditangan kiri, bram ditangan kanan, bram kedua kaki. Sementara Rangga meronta-ronta.

Borne lalu menarik restluiting celananya, dan kemudia melepaskan celana abu-abu smunya. terlihatlah celana dalam putihnya dan sebentuk kontol yang lumayan gede dibalik celana dalam itu. Segera diturnkannya juga celana dalam itu. Ketiga temannya terlebih Rangga kaget melihat aksi yang dilakukan oleh Borne.
"Mau ngapain lu Born?" Celetuk Adit bengong sambil matanya gak lepas memandangi kontol Borne. Sementara Borne menyeringai garang ke arah Rangga.

Rangga, Adit, Dito, dan Bram tak berkedip menyaksikan Borne yang dengan cueknya mempertontonkan kontolnya. Adit, Dito, dan Bram serasa tak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu.
Dua tahun bersahabat akrab sejak duduk di kelas 1 mereka berempat selalu bersama-sama baik disekolah maupun di luar sekolah. Selama hubungan persahabatan mereka terjalin tak pernah sekalipun mereka saling melihat alat vital masing-masing, bahkan saat bertukar pakaian sekalipun di ruang bilas kolam renang.
Borne menggenggam kontolnya lalu dengan bangga menggoyang-goyangkannya di depan hidung Rangga.

Digesek-gesekkannya kontol itu di mulut, pipi, hidung, dan seluruh wajah Rangga.

"Nih, hukuman lo biar kapok gangguin Cinta. Isep kontol gua!" bentak Borne sambil menyeringai garang.

Rangga berusaha menghindar dari kontol Borne, namun pegangan erat dari Adit, Dito, dan Bram membuat usahanya untuk menghindar tidak memperoleh hasil apa-apa.

Dengan paksa Borne mendesakkan kontolnya kedalam mulut Rangga yang dengan berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua bibir merahnya.

"Sialan lu! Atau lu pengen gua bool beneran nih, makanya lo nolak ngisep kontol gua. Dasar homo!! Guys telanjangin nih homo biar gua bool pantat jeleknya !!!" kata Borne berang. Mendengar perintah Borne serempak ketiga cowok SMU itu menarik-narik pakaian Rangga berusaha melepaskannya.

"Oke! Oke! Gua isep kontol lu Born," teriak Rangga sambil melepaskan diri dari serbuan Adit, Dito, dan Bram yang berusaha menelanjanginya.


"Tapi kita sepakat just oral, gak ada sodomi-sodomian!" kata Rangga sambil menatap tajam Borne.

"Hahahahaha, gitu dong. Dari tadi kek lu pasrah. Kan jadi gak perlu ada acara pemaksaan," kata Borne sambil mencolek bibir tipis Rangga. "Gua udah gak sabar pengen ngerasain gimana bibir lu yang bagus ini ngelumat kontol gua. Sini luh!!"

Borne menarik tangan Rangga lalu membawanya ke sudut gudang. Disudut gudang itu terdapat kumpulan kursi jelek bekas tempat duduk murid. Borne lalu duduk disebuah kursi. Dikangkangkannya pahanya lebar-lebar sambil dilepaskannya kemeja putihnya.

Kini dihadapan Rangga duduk mengangkang Borne yang telanjang bulat. Tubuh Borne yang atletis merupakan pemandangan baru buat Rangga.

"Sini luh! Jongkok di depan kontol gua!" perintah Borne.
Rangga segera mengikuti perintah Borne.

Kini dihadapan Rangga terpampang kontol Borne yang masih lemas. "Gede juga nih barang," batin Rangga. Ukuran kontol Borne memang gede. Belum ngaceng aja udah sekitar 9 cm dan batangnya gemuk. Disekitar pangkal kontol bertebaran bulu-bulu kemaluan yang lembut namun tebal. Bulu-bulu itu membentuk alur hingga ke perut Borne. Tiba-tiba kepala Rangga dibenamkan Borne ke selangakangannya. "Lama amat penelitian luh. Isap aja langsung!!!" bentaknya lagi.

Dengan gelagapan Rangga membenamkan seluruh kontol itu kedalam mulutnya lalu menyeruputnya dalam-dalam, "Srupppppppppppp..............
"
"Emangnya sosis, langsung maen telen aja luh!" Borne menolakkan kepala Rangga lalu mengangkat dagu Rangga hingga wajah Rangga terdongak memandang wajah Borne. "Jilat dulu dong. Buat gua terangsang. Jangan-jangan lu homo beneran ya, baru liat kontol langsung maen telen aja. Doyan lu ya, sering lu ya ngisep kontol?!!!!!!!"

"Gila luh, gua baru sekali ini ngisep peler. Mana gua tahu harus ditegakin dulu Born." jawab Rangga lirih.
"Ya udah. sekarang jilat dulu nih pala kontol gua!"

Rangga kemudian menggenggam batang kontol Borne. Dengan ragu-ragu didekatkan mulutnya ke kontol itu. Lalu dileletkannya lidahnya ke arah kepala kontol Borne yang kemerahan.

Borne menggelinjang merasakan nikmat sentuhan lidah Rangga di kepala kontolnya. Rasa kesat dari daging lidah ditambah hembusan nafas yang hangat sekaligus bercampur dingin kelenjar ludah dari lidah Rangga merupakan sensasi baru bagi Borne. Belum pernah ia merasakan sensasi itu sebelumnya.

Setiap jilatan lidah Borne menimbulkan rangsangan yang membuat Borne seperti kegelian sehingga membuatnya menggelinjang. Bulu kuduknya terasa tegak diikuti dengan batang kontolnya yang mylai mengeras.

"aghhhh..." desah Borne menikmati jilatan Rangga.

Ketika sobat Borne menelan ludah menyaksikan kejadian didepan mata mereka itu. Ketiganya mulai terangsang ditandai dengan tangan mereka yang mulai meremas-remas selangkangannya. Namun mereka tidak berani mengganggu kenikmatan Borne.

Rangga dengan tekun terus menjilati kepala kontol milik Borne. Kepala kontol Borne menjadi mengkilap berkat air ludah Rangga. Slurpp..slurpp..slurppp...

Jilatan Rangga membuat Borne terangsang hebat. Secara tidak disadarinya pantatnya mulai bergoyang berirama, maju mundur. Tangannya mulai meremas-remas rambut kepala Rangga. Rangga sendiri mulai menikmati sensasi yang timbul akibat kulumannya di kontol Borne. Secara sadar ia merasakan bahwa kontolnya pun mulai membesar. Celana dalamnya serasa bertambah sempit dan tak sanggup menahan kontolnya yang mulai meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sambil terus menyelomoti kontol Borne, Rangga mulai meremas-remas selangkangannya sendiri.

Borne tiba-tiba menolakkan kepala Rangga dari kontolnya. Rangga terkejut, “Kenapa Born?” tanyanya lirih. Tiba-tiba Rangga merasa tidak rela untuk melepaskan kontol itu dari mulutnya. “Nggahh…gua nafsu banget sama elohh’” jawab Borne juga dengan lirih. Lalu dengan tiba-tiba Borne mencium bibir Rangga, melumatnya. Rangga pun hilang kekagetannya. Dibalasnya lumatan Borne. Kini keduanya sedang asik melumat dan berperang lidah.

Sambil melumat bibir Rangga, Borne meraba-raba seluruh tubuh Rangga. Dada Rangga yang bidang di remasnya yang semakin menambah rangsangan bagi Rangga. Lalu Borne melepaskan mulut mereka dari pagutan yang dalam dan sangat lama. Sambil terengah-engah karena kehabisan nafas akibat pagutan itu Borne berkata, “Nggah..heh..lu gua telanjangin hyah..hehh..”

Rangga menjawab dengan anggukan. Lalu dengan tergesa-gesa Borne melepaskan seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Rangga. Dalam sekejap Rangga telah berdiri telanjang bulat dihadapan Borne. Borne terpana memandang tubuh indah dihadapannya itu. Tubuh tinggi langsing berotot milik Rangga putih bersih. Bulu-bulu lembut namun lebat bertebaran di ketiak dan selangkangan Rangga.

Borne menyentuh dada bidang Rangga, meremasnya. Tangan itu kemudian mulai mejelajahi perut Rangga yang rata dan berotot terus kebawah. Dibawah pusar Rangga Borne mulai merasakan alur bulu-bulu yang semakin lebat hingga ke pangkal kontol Rangga. Pelan-pelan Borne mulai membungkuk hingga akhirnya jongkok dihadapan Rangga. Matanya tak lepas memandangi kontol Rangga. Digenggamnya kontol gemuk panjang yang sudah tegak keras itu. Kontol Rangga lebih besar dan panjang dari miliknya. Kuning langsat kemerahan. Kepalanya seperti jamur yang berwarna merah kehitaman. Pada batangnya kelihatan sedikit urat-urat menonjol. “Nggahh..bagus banget..” celetuk Borne bernafsu. Segera dimasukkannya kontol itu kedalam mulutnya.

Borne mengulum kontol Rangga dengan sangat bernafsu. Kepala bergerak maju mundur dengan cepat. Rangga mengimbangi goyangan Borne dengan menggerakkan pantatnya maju mundur. Rangga mengerang-erang, keenakan. Rasanya sedemikian nikmat buat Rangga.

Sementara Adit, Dito, dan Bram sudah asik sendiri juga. Ketiganya asik saling mengocok kontol rekannya. Rupanya mereka tak tahan juga lama-lama menyaksikan pergumulan Rangga dan Borne.
Kini kelima cowok ganteng itu sudah asik dengan permainan sex yang sangat menghanyutkan mereka
-----
Cinta tiba-tiba terhenyak. Dia merasa bahwa sedang ada yang terjadi dengan orang-orang terdekatnya. Tapi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi itu. Baru disadarinya bahwa Borne sudah tidak duduk lagi disebelahnya. “Borne kemana ya?” tanyanya pada Alya, Mili, dan Maura. Namun ketiganya juga tidak tahu kemana Borne karena dari tadi mereka sangat serius meperhatikan permainan Carmen di lapangan. Baru saja Carmen menyumbangkan dua angka lagi bagi Tim Basketnya. Di pinggir lapangan cheerleader bersorak-sorai untuk Carmen.

-----

“sluruppppp………………………” sebuah sedotan panjang Borne pada kontol Rangga yang menggantung tegak diatasnya membuat Rangga merinding keenakan. Sementara Rangga sedang sibuk menyibakkan belahan pantat Borne. Ada sesuatu yang dicarinya. Kini Rangga dan Borne dapalam posisi 69 dimana Rangga tertelungkup dengan bertumpu pada kedua kaki dan tangannya diatas tubuh Borne yang berbaring telentang dengan melingkarkan pahanya di punggung Rangga.

Rangga rupanya sibuk mencari-cari lobang pantat Borne. Lubang itu berwarna kemerahan, keriput. Ketika Rangga mencoba menyodok lobang itu dengan ujung telunjuknya terasa seret. “Sempit banget.” Komentarnya. Segera lidahnya mulai menjilati pintu gerbang yang masih terkunci itu. Diludahinya lobang itu, kemudian dengan bantuan jari dan lidahnya disebarkan ludah itu ke seluruh lobang keriput milik Borne itu hingga rata.

Rangga kembali mencoba memasukkan ujung telunjuknya ke lobang itu. Terasa mulai licin dan dapat dimasuki. Pelan-pelan mulai dirojoknya lobang itu dengan ujung telunjuk. Akhirnya seluruh telunjuk Rangga telah keluar masuk di lobang sempit itu. Borne mengerang setiap kali telunjuk Rangga menggesek lobang dalam pantatnya.

Sambil terus bermain-main dengan lobang pantat Borne, pantat Rangga terus bergoyang turun naik sehingga kontolnya keluar masuk mulut Borne.

Borne mengerang-erang keenakan, menikmati sodokan jari telunjuk Rangga yang keluar masuk dalam lobang pantatnya. Sensasinya begitu hebat. Kenikmatan yang ia peroleh dari sodokan jari Rangga membuatnya menggelinjang-gelinjang keenakan. Matanya merem melek menahan nikmat. Tanpa disadarinya giginya menggigit-gigit kecil batang kontol Rangga yang masih keluar masuk berirama dalam mulutnya. Gigitan Borne merupakan kenikmatan tersendiri bagi Rangga.

Semakin lama, lobang pantat Borne semakin relaks menerima sodokan jari Rangga. Jari Rangga semakin mudah menerobos lobang sempit kemerahan itu. Menyadari hal itu Rangga mulai ikut memasukkan jari tengahnya kedalam lobang itu. Erangan Borne semakin keras, "Ahhhh...Nggahhh..."

Kini tiga jari Rangga telah asik keluar masuk lobang pantat Borne. Sambil merojok lobang itu lidah Rangga tidak henti-hentinya terus menjilat-jilat selangkangan dan kontol Borne. Nampaknya Borne sudah sedemikian terangsang. "Nggah...fuck gua gahh...fukghhh guaehh!!" perintahnya lirih dengan suara bergetar. Ditolaknya tubuh Rangga. Lalu dicarinya mulut bagus Rangga. Dilumatnya mulut itu. Kemudian ia pegangi kedua pipi Rangga, dengan mata sayu ia berkata, "Nggahh..lo bikin gua horny banget...loh harus bertanggung jawab..Sekarang lo harus fuck gua!"

Rangga tersenyum nakal mendengar perintah Borne itu. "Beneran nih?" tanyanya. Borne hanya menjawab pertanyaan itu dengan tidur telentang dan membuka lebar-lebar pahanya. Ditariknya tubuh Rangga sehingga menindihnya. Rangga yang mengerti kenginan Borne segera mengambil posisi. Dikangkangkannya paha Borne diantara pinggangnya. Diarahkannya kepala kontolnya ke arah lubang pantat Borne. Dengan tangan kanan Rangga menggenggam kontolnya, lalu mulai menyodokkan kontolnya ke mulut lobang pantat Borne. Terasa licin lobang itu, namun sempit banget. Rangga agak susah meloloskan kepala kontolnya yang gede itu kedalam lobang pantat Borne. Namun dipaksakannya juga. "Aghhhhhhh.."erang Borne saat merasakan sebuah benda gemuk dan keras menerobos lobang pantatnya. "Sakit Nggah...sakit."

Rangga diam, terus berkonsentrasi menerobos lobang pantat Borne senti demi senti. Borne masih terus mengerang, namun ia tidak meminta Rangga menghentikan kegiatannya. Borne memejamkan matanya menahan sakit sambil tangannya terus meremas dada bidang Rangga. Keringat telah membanjiri kedua tubuh cowok SMU yang ganteng-ganteng itu. Rambut keduanya telah basah oleh keringat.

Sementara di sudut lain gudang itu ketiga teman Borne menghentikan kegiatan sexnya memperhatikan adegan panas Rangga dan Borne.

Pelan namun pasti kontol Rangga akhirnya masuk seluruhnya kedalam lobang sempit Borne. Jembut lebat Rangga menggesek-gesek buah pantat dan selangkangan Borne. Rangga mendiamkan sebentar kontolnya dalam lobang pantat Borne. Diresapinya kehangatan lobang pantat Borne yang menjepit keras kontolnya. Dipandanginya wajah Borne yang ganteng dan basah oleh keringat. Menyadari bahwa Rangga hanya diam dan tidak melakukan aktifitas Borne membuka kedua matanya yang terpenjam. Kedua cowok ganteng itu saling memandang dengan penuh sayang. Tiba-tiba Borne menarik wajah Rangga, lalu diciuminya bibir merah milik cowok ganteng itu. Keduanya kembali saling berpagutan dengan penuh nafsu. Lidah keduanya berperang dalam gelora nafsu.

Sambil berciuman dengan lembut Rangga mulai menggoyang pantatnya maju mundur. Lembut sekali. Setiap tarikan dan dorongan pantat Rangga membuat batang kontolnya keluar masuk menggesek dinding lobang pantat Borne yang licin dan hangat. Borne mengerang, Borne terangsang. Lumatannya pada bibir Rangga semakin keras. "Hmmppppppppp...erghhhh....eghhhh......rghhkk......"

Goyangan pantat Rangga semakin berirama. Sekali-kali diputarnya pantatnya. Rupanya cepat juga Rangga berimprovisasi. Borne semakin keenakan dengan goyangan Rangga. Tangannya meremas-remas punggung Rangga menahan nikmat. Keduanya benar-benar telah dibawa nafsu sampai melupakan ketiga cowok lain yang melotot melihat keduanya mengentot dengan mesra. Nampaknya baik Borne maupun Rangga sudah melupakan perseteruan mereka.

"Ah..ah..ah...ah..ah...ah.....,"desah Rangga

"Eghhh...erghhh...erghhh...erghhh...erghhh..," erang Borne

"Plak..plak..plak...plak.." bunyi tamparan paha Rangga di belahan pantat Borne

"Cprut..cprut..cprut..cprut..'" suara kontol Rangga yang bergesek dengan lobang pantat Borne yang licin dan seret.

Tiba-tiba goyangan Rangga semakin cepat, cepat.. seperti piston. Desahannya makin cepat. Keringat semakin membanjiri tubuhnya. Wajahnya kemerahan. Borne pun semakin cepat mengimbangi goyangan itu. Kontolnya pun digesek-gesekkan ke perut Rangga yang licin. Tangannya mulai mencakar-cakar punggung Rangga. Lumatan keduanya semakin dalam, nafas keduanya semakin tidak beraturan.

"Ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah.ah."

"Eghhh...erghhh...erghhh...erghhh...erghhh..eghhh...erghhh...erghhh...erghhh...erghhh..,"

Goyangan pantat Rangga semakin cepat, menekan dalam-dalam lobang pantat Borne. Goyangan pantat keduanya semakin tidak beraturan.

"Bornhhh...guahhh..maughhh..keluarghhh...ahh...ahhh....ahhh" kata Rangga

"Samah..samah...Nggahhhh..arghhh" jawab Borne

Lalu dengan sekali sentakan Rangga membenamkan kontolnya dalam ke lobang pantat Borne. Demikian pula Borne mendesakkan kontolnya keras ke perut Rangga. Keduanya mengerang keras, tak peduli apakah suara mereka keluar dari gudang itu. Adit, Dito, dan Bram melotot melihat dua cowok ganteng itu.

"ARghhhhhhhhhhhh....." erang keduanya

Kontol keduanya berkedut-kedut mengeluarkan sperma, "crot..crot..crot..crot...crot...." Rangga menarik wajah Borne, melumat bibirnya. Keduanya berpagutan sambil menikmati semburan sperma mereka yang banyak. Pagutan yang lama dan dalam, karena semburan sperma mereka yang banyak..
.
Hingga akhirnya pagutan itu melemah seiring dengan selesainya semburan sperma itu. Keduanya tergeletak lemas. Tubuh Rangga masih menindih tubuh Borne. Kontol Rangga masih bersarang dalam lobang pantat Borne yang mencengkeram erat batang kontol itu.

"Teng..teng..teng..teng..teng..!"

Lonceng sekolah berbunyi nyaring. Tapi kelima cowok itu tidak ada yang bereaksi. Rangga dan Borne masih menikmati persenggamaan mereka yang benar-benar nikmat. Sementara Adit, Dito, dan Bram masih bengong akan peristiwa yang terjadi didepan mereka. Tak sadar kalo mereka pun sudah menyemburkan spermanya.

"Born..," kata Rangga berbisik lirih sambil menjilat telinga Borne

"Hmmm," jawab Borne sambil mengusap-usap punggung Rangga sayang, "Apa Ngga??" tanyanya

"Udah bel sekolah,"

"Jadi?"

"Balik yuk"

Borne kemudian mencium dada Rangga, mencupangnya. "Ayo.."

Rangga kemudian bangkit dengan lemas. Dicabutnya kontolnya yang masih setengah keras. Bersamaan dengan dicabutnya kontol itu, spermanya tumpah dari lobang pantat Borne. Sementara di perut dan dada Rangga berceceran sperma kental Borne.

"Liat nih perbuatan elo," senyum Rangga pada Borne.

Borne tertawa kecil. Diambilnya celana dalamnya lalu dibersihkannya sperma itu. Rangga membantu Borne membersihkan sperma itu. Sambil keduanya asik membersihkan Rangga bertanya, "Ancaman lo masih berlaku nih Born?"

"Ancaman yang mana?" tanya Borne.

"Kalau gua masih ganggu Cinta bagaimana?"

"O, yang itu. Masih dong. Kalau lo gangguin Cinta lagi, lo bakalan gua kerjain lagi," jawab Borne senyum nakal.

"Asik dong kalo gitu." jawab Rangga membalas dengan senyum nakal juga.

Keduanya tertawa. Lalu segera berpakaian.

"Eh, lo bertiga kok masih bengong aja. Ayo cabut!" bentak Borne kepada ketiga temannya.

"Eh, pakai baju dulu dong lo bertiga. Masak telanjang gitu mau cabut!" Bentak Rangga.

Borne dan Rangga ketawa ngakak melihat Adit, Dito, dan Bram yang sudah bersiap-siap menyerbu pintu keluar masih dalam keadaan telanjang bulat.

Tamat